M. Miftahul Huda & KH. Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz

Tadi malam sekitar maghrib saya mendapat sms dari kawan saya, bunyinya:

"Hari ini adalah hari ke-1000 meninggalnya sobat kita M. Miftahul Huda, mohon untuk mengirimkan surat Al-Fatihah"

deg. Ya Allah nggak terasa sudah hampir tiga tahun sahabat saya itu meninggal dunia. 

Miftah, adalah aalah seorang yang cukup berpengaruh di Aliyahku dulu. Dia pernah menjabat sebagai ketua peringatan ulang tahun pesantren pada saat angkatan saya menjadi panitianya. Banyak kenangan saya dengan dia kala di MA dulu, disamping karena saya menjadi bendahara dari kepanitian yang diketuainya, juga karena dia sering ikut belajar bersama untuk membahas materi-materi kitab yang sudah dikaji.
Terakhir pertemuan saya dengan dia saat reuni di pernikahan salah satu teman MA. Pada saat itu dia menjadi sponsor obrak-obrak untuk pemberangkatan temen-temen Jombang, sedang aku yang di Malang.

saya sisipkan fatihah padanya sebelum membaca Yasin usai maghrib semalam.

Menjelang subuh, saya bangun. Seperti biasa, yang pertama kali saya lihat adalah HP. Lihat jam.
Ternyata ada 3 sms. innalillah, ternyata isinya sama. Berita tentang meninggalnya kiai yang sangat ingin di undang teman PMII rayon fakultas saya dulu.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, telah wafat KH. M. A. Sahal Mahfudz, Rais Am Nahdlotu Ulama', pukul 01.00 WIB. Semoga ibadahnya diterima oleh Allah SWT. al fatihah!!"

sms semacam itu kemudian menyusul datang pada menit dan jam berikutnya. dengan berbagai macam redaksinya.

di Sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum nahdliyyin. Meskipun wajah beliau tidak selalu familiar seperti halnya Gus Dur, Gus Mus maupun Habib Syekh.Beliau adalah salah seorang ulama' khos yang setahu saya ahli di bidang fiqih. Beliau tidak aktif di dunia politik

Beliau menjadi Rois Am NU semenjak tahun 1999, serta diamanahi sebagai ketua MUI Pusat semenjak tahun 2010. Disamping itu juga menjabat Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama' Jepara, serta yang utama yaitu Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen Pati. Begitu catatan dalam wikipedia.

Sebelum saya mengenal beliau sebagai sosok kiai kharismatik yang jarang terekspos media, saya mengenal beliau dalam dua sisi. Satu sisi mngenal beliau sebagai saudara sepupu dari kiai-kiaiku di Tambakberas, yaitu KH. Abd Nasir Fattah, KH. Djamaluddin Ahmad dan KH. M. Sulthon Abdul Hadi. Serta di satu sisi sebagai guru fiqihku secara tidak langsung. Buku karangan beliau berjudul "Dialog Bersama Kiai Sahal" yang berisi jawaban persoalan-persoalan fiqih, banyak membantu kajian fiqihku saat di pesantren tambakberas dulu.

Tidak ada kaitan sahabat saya Miftah dan Mbah Sahal. Hanya ada beberapa kesamaan bagi saya pribadi. Keduanya merupakan putra terbaik kelompoknya. Miftah salah satu putra terbaik Gezwa (nama angkatan di sekolah saya, 2009), sedang Mbah Sahal adalah putra terbaik bangsa khususnya nahdliyyin. Kalau Miftah dedikasinya untuk mensponsori tradisi silaturrahim di El-Gezwa sedang Mbah Sahal menjadi ahli hukum Islam di NU maupun di Indonesia. sama-sama berarti.

Harapan saya, semoga beliau berdua diampuni segala dosa dan diterima segala amal baik serta mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Seperti halnya umumnya yang dipanjatkan orang-orang. 

Tapi selain itu saya juga punya harapan khusus.
Semoga setelah wafatnya Mbah Sahal ini Allah melahirkan generasi penerus perjuangan beliau, dalam pemutusan hukum Islam, dalam menghidupi-hidupi NU juga dalam keseriusan membimbing umat. Tidak seperti saat Miftah meninggal, dimana kemudian tidak muncul pihak-pihak baru yang mau berkorban untuk menjadi sponsor baru El-Gezwa, menjadi penghidup-hidup silaturrahim, bahkan hingga kini. Semoga.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »