"Hari ini adalah hari ke-1000 meninggalnya sobat kita M. Miftahul Huda, mohon untuk mengirimkan surat Al-Fatihah"
deg. Ya Allah nggak terasa
sudah hampir tiga tahun sahabat saya itu meninggal dunia.
Miftah, adalah aalah
seorang yang cukup berpengaruh di Aliyahku dulu. Dia pernah menjabat sebagai
ketua peringatan ulang tahun pesantren pada saat angkatan saya menjadi
panitianya. Banyak kenangan saya dengan dia kala di MA dulu, disamping karena
saya menjadi bendahara dari kepanitian yang diketuainya, juga karena dia sering
ikut belajar bersama untuk membahas materi-materi kitab yang sudah dikaji.
Terakhir pertemuan saya
dengan dia saat reuni di pernikahan salah satu teman MA. Pada saat itu dia
menjadi sponsor obrak-obrak untuk pemberangkatan temen-temen Jombang, sedang
aku yang di Malang.
saya sisipkan fatihah
padanya sebelum membaca Yasin usai maghrib semalam.
Menjelang subuh, saya
bangun. Seperti biasa, yang pertama kali saya lihat adalah HP. Lihat jam.
Ternyata ada 3 sms.
innalillah, ternyata isinya sama. Berita tentang meninggalnya kiai yang sangat
ingin di undang teman PMII rayon fakultas saya dulu.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, telah wafat KH. M. A. Sahal Mahfudz, Rais Am Nahdlotu Ulama', pukul 01.00 WIB. Semoga ibadahnya diterima oleh Allah SWT. al fatihah!!"
sms semacam itu kemudian menyusul datang pada menit dan jam berikutnya. dengan berbagai macam redaksinya.
di Sebuah nama yang tidak
asing di telinga kaum nahdliyyin. Meskipun wajah beliau tidak selalu familiar
seperti halnya Gus Dur, Gus Mus maupun Habib Syekh.Beliau adalah salah seorang
ulama' khos yang setahu saya ahli di bidang fiqih. Beliau tidak aktif di dunia
politik
Beliau menjadi Rois Am NU
semenjak tahun 1999, serta diamanahi sebagai ketua MUI Pusat semenjak tahun
2010. Disamping itu juga menjabat Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama'
Jepara, serta yang utama yaitu Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen Pati.
Begitu catatan dalam wikipedia.
Sebelum saya mengenal
beliau sebagai sosok kiai kharismatik yang jarang terekspos media, saya
mengenal beliau dalam dua sisi. Satu sisi mngenal beliau sebagai saudara sepupu
dari kiai-kiaiku di Tambakberas, yaitu KH. Abd Nasir Fattah, KH. Djamaluddin
Ahmad dan KH. M. Sulthon Abdul Hadi. Serta di satu sisi sebagai guru fiqihku
secara tidak langsung. Buku karangan beliau berjudul "Dialog Bersama Kiai
Sahal" yang berisi jawaban persoalan-persoalan fiqih, banyak membantu kajian
fiqihku saat di pesantren tambakberas dulu.
Tidak ada kaitan sahabat saya Miftah dan Mbah Sahal. Hanya ada beberapa kesamaan bagi saya pribadi. Keduanya merupakan putra terbaik kelompoknya. Miftah salah satu putra terbaik Gezwa (nama angkatan di sekolah saya, 2009), sedang Mbah Sahal adalah putra terbaik bangsa khususnya nahdliyyin. Kalau Miftah dedikasinya untuk mensponsori tradisi silaturrahim di El-Gezwa sedang Mbah Sahal menjadi ahli hukum Islam di NU maupun di Indonesia. sama-sama berarti.
Harapan saya, semoga beliau berdua diampuni segala dosa dan diterima segala amal baik serta mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Seperti halnya umumnya yang dipanjatkan orang-orang.
Tapi selain itu saya juga
punya harapan khusus.
Semoga setelah wafatnya
Mbah Sahal ini Allah melahirkan generasi penerus perjuangan beliau, dalam
pemutusan hukum Islam, dalam menghidupi-hidupi NU juga dalam keseriusan
membimbing umat. Tidak seperti saat Miftah meninggal, dimana kemudian tidak
muncul pihak-pihak baru yang mau berkorban untuk menjadi sponsor baru El-Gezwa,
menjadi penghidup-hidup silaturrahim, bahkan hingga kini. Semoga.
