SERATUS HARI TERAKHIR DI PESANTREN (H -100)

23.00              Sunan Ampel 1         17 Januari 2009

“sedikit waktu yang kau miliki, sempatkanlah”
Untuk permulaan aku tak suka menulis banyak sepertinya, apalagi baik. Meski sudah pernah sebelumnya tetap saja masih ada rasa kagok, kaku dan semacamnyalah. Maklum, aku tidak menulis semacam ini sudah masuk hitungan 2 bulanan. Terlalu lama untuk ukuran absen selama itu.

Dan akhirnya aku hanya bisa berharap dengan sebenar-benarnya harap kepada Allah SWT agar niatan (yang menurutku positif ini) bisa tercapai hingga usai, ah keliru.. maksudku aku bisa mendapat yang terbaik indallah.

Besok pagi, jam 10 rapotan. Nggak ada perasaan deg-degan blas. takut ini, takut itu. Ingin begini.. Ingin begitu.. Sama sekali tidak ada. Rapotan seolah rutinitas skala tahunan yang membosankan bagiku. Selalu tak ada kejutan (entah, besok?). Saat menerima rapot adalah saat dimana aku telah mengambil hak orang lain. Aku selalu mendapat rangking atas, padahal sinau males terus, nyontoh pisan pas ujian. Pokonya gak panteslah aku nerima hal tersebut. Terhadap penyebab-penyebab kenapa aku bisa meraihnya, apa karena keberuntungan atau mungkin karena dilulu Gusti Allah, aku tak ambil pusing. Biarlah yang penting aku sadar salahku – gak sinau dsb – dan aku berusaha memperbaiki semampuku.
--- [] ---

Aku termasuk kategori orang yang kurang bersyukur, tepatnya: tidak mau bersyukur kecuali mendapat yang seperti kurencanakan. Lebih tepat lagi, perfeksionis.

Maka untuk menekan sifat burukku itu aku akan coba tuliskan sesuatu yang benar tapi sebenarnya nggak ada diriku --kebohongan yang terdeteksi dan tertulis--, ini dia:

AKU BERSYUKUR SEKALI HARI INI, BISA SELESAI NULIS HINGGA BARIS TERAKHIR. SETERUSNYA, KU HARAP BISA TERUS BEGINI. KARENA UKURAN TULISAN YANG BAIK PADA BUKU INI, ADALAH KETIKA MAMPU MENGISI BARISA-BARIS KOSONG DENGAN GORETAN KATA

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »