Sungguh ironis, Indonesia
sebagai negara yang mayoritas warganya muslim mengidap gejala korupsi yang
tinggi. Sebagaimana hasil penelitian TI pada tahun 2012, Indonesia menempati
peringkat ke-56 sebagai negara terkorupdiantara 174 di dunia. Hal itu amat menyeskkan,
islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai kejujuran ternyata belum bisa
memberi dampak nasional terhadap kebersihan institusi di negara kita. Apalagi
bila melihat sosok-sosok koruptor di media yang merupakan warga muslim juga.
Betapa malunya kita sebagai warga muslim indonesia.
Korupsi yang sudah
menjadi-jadi di negara tentu harus mendapatkan perhatian serius oleh seluruh
rakyat kita. Terutama kaum muslim. Dominasi jumlah penduduk, juga membuat angka
keterwakilan di pemerintahan juga didominasi muslim. Meskipun bukan berarti
kemudian memandang sebelah mata yang beragama lain, namun sepatutnya orang
islam bisa menjadi sponsor sebagai duta antikorupsi, tidak malah sebaliknya.
Ada beragam cara yang
ditempuh untuk mengatasi hal tersebut, baik yang sudah dijalankan maupun yang
masih dalam tahap wacana. Solusi tindak tegas dan hukum berat koruptor,
kampanye besar-besaran maupun diklat seringkali menjadi solusi yang ramai
dibicarakan. Upaya pemberantasan semacam itu harus terus diupayakan hinga
optimal agar pelaku dan tindak korupsi bis asemakin berkurang. Hanya saja upaya
jangka panjang juga harus diperhatikan. Mau tidak mau menyiapkan generasi depan
yang jijik dengan korupsi adalah mutlak adanya, sebab merekalah penentu nasib
bangsa ini selanjutnya di kemudian hari.
Solusi jangka panjang;
dimulai sejak dalam kandungan
Tayangan perihal
pengusutan kasus korupsi tiap hari menghiasi media televisi nasional. Hal
tersebut mengakibatkan istilah korupsi semakin populer termasuk pada kalangan
anak-anak. Kata-kata korupsi tidak menjadi kata yang asing di telinga mereka,
meski belum tentu tahu akan maknanya. Maka sepatutnya sebagai orang tua muslim
kita mau untuk menyikapi hal itu, salah satunya adalah dengan memberikan pemahaman
anak sejak dini tentang bahaya laten korupsi. Pendidikan anti korupsi merupakan
langkah kongkrit yang sangat tepat untuk direalisasikan. Bukan dimulai sejak
dini, remaja maupun saat perguruan tinggi lagi, tetapi harus dimulai sejak
dalam kandungan. Yah, sejak masih dalam rahim anak.
Pada saat hamil ayah dan
ibu harus berhati-hati dalam mencari nafkah untuk dimakan. Jangan sampai sari
makanan yang diserap janin berasal dari uang haram. Hal tersebut sangatlah
penting untuk menanamkan sifat jujur dan hati-hati dalam mencari nafkah untuk
keluarga. Juga karena selain itu, saripati makanan ibu akan diserap dan akan
membentuk tubuh anak. Apa jadinya bila tubuh anak yang akan dilahirkan
terbentuk dari saripati makanan yang tidak halal asal-usulnya?!
Sesulit apapun orang tua
dalam menafkahi keluarga, khususnya anak, jangan sampai menjadi alasan untuk
menghalalalkan tindakan korupsi. Begitupun apabila dia berada dalam lingkaran
korupsi,baik skala besar seprti pemerintahan maupun skala kecil seperti
sekolahan, orang tua harus pandai meletakkan posisi agar ikut terjerat di
dalamnya.
Selanjutnya ketika anak
masih kecil, orang tua harus benar-benar mewaspadai asal-usul uang yang dipakai
untuk anaknya. Selain itu orang tua harus memperlihatkan tindakan positif
kepada anak sebab pada usia tersebut anak akan merekam dalam akalnya sehingga
apa yang dilakukan oleh orang tuanya akan dianggap sebagai batasan kebenaran.
Pada saat anak masuk
sekolah tingkat dasar, maka pendidikan anti-korupsi mulai ditanamkan secara
gamblang kepada anak. Orang tua perlu mendampingi di depan televisi pada saat
melihat berita kasus korupsi, untuk kemudian diberi selipan nasehat kepada anak
tentang kejinya tindak korupsi. Anak juga harus dibiasakan jujur, tentang
penggunaan uang saku, perihal uang kembalian setelah ia disuruh membeli di toko
sebelah. Sesekali menceritakan kepada anak tentang mulianya jujur, penting
untuk menanamkan dihati anak sifat rosul tersebut.
Pada saat mulai masuk
sekolah tingkat pertama, orang tua harus memberi contoh yang kongkret. Mulai
berjalannya logika anak membuat orang tua harus memahami bahwa dia tidak patut
menasehati ketika belum melakukan. Jangan sampai orang tua kemudian memberi
contoh buruk yang biasanya dilakukan, semisal: melakukan segala cara agar
anaknya masuk di SLTP unggulan di kotanya. Bibit korupsi pada anak akan tumbuh
bila hal demikian dilakukan.
Kemudian pada saat masuk
di bangku SLTA, anak mulai memahami fakta-fakta sekitar dan mulai penasaran
dengan hal-hal baru. Pada saat itu orang tua harus mulai memahami bahwa anak
mulai butuh pengakuan. Ketika kita adalah seorang yang beruntung secara
ekonomi, maka kita harus melatih mengerem gaya hidup anak dalam ranah
sewajarnya. Hal itu sangat berpengaruh agar anak tidak terbiasa dengan
keglamouran. Namun ketika kita adalah seorang yang kurang beruntung, jangan
sampai kita kemudian memberi contoh sikap tidak neriman kita di depan anak,
karena hal tersebut bisa menimbulkan sikap tamak pada anak. Hal itu akan secara
tidak langsung menggiring anak pada pemahaman bahwa ukuran berhasil
adalahbanyaknya harta, materialistik. Ketika akan mengurus SIM, orang tua
jangan sampai mensponsori anak untuk mengurusnya lewat jalan makelar.
Saat masuk diperguruan
tinggi dan anak mulai mengenal dunia organisasi pyur politik, sepatutnya orang
tua bisa memberi pendampingan sedikit-sedikit. Anak harus mulai dipengaruhi
dengan idealisme, untuk berani jujur dan tanpa menyerah. Anak diharapkan tidak
terjebak sistem lingkaran korupsi kampus, dengan tanpa harus pergi meninggalkan
organisasi itu yang nota bene akan menambah soft skill anak.
Tibalah saat anak tidak
menjadi anak lagi. Ketika sudah akan mulai berkiprah di dunia kerja, orang tua
harus mendorong sifat gentleman pada anak. Sepatutnya anak tidak dibiarkan
menempuh jalur sogok menyogok pada saat akan masuk dalam perusahaan tertentu.
Orang tua memberi pengertian anak, di usia setengah matang tersebut, bahwa
hidup itu tidak hanya persoalan berhasil atau tidaknya saja, tetapi juga soal
baagaimana proses mendapatkannya. Tuhan tidak pernah tidur, selalu mengetahui
apa yang dikerjakan hambaNya. Orang tua juga tidak dengan mudahnya memasukkan
anak pada lembaga/perusahaan secara inkonstitusi, apalagi bila tidak kompeten.
Mungkin maksud orang tua membantu, tetapi sejatinya bila hal ini dilakukan sama
saja menjerumuskan anak pada bahaya laten KKN.
Penutup
Manusia yang dalam posisi
sadar akal dan hatinya tentu aka sangat mengutuk tindak korupsi. Karena jelas
tindakan yang terkandung di dalamnya ketidakjujuran, pecurian, ketidakadilan
ini merugikan banyak pihak. Namun terkadang ketidakberdayaan mentalnya untuk
menghadapi tindak yang sudah mengakar di lingkungannya, seringkali membuat
larut dan hilang kesadaran nurani. Meskipun dia ahli agama sekalipun. Maka
pendidikanlah satu-satunya alat yang bisa membentuk apa yang disebut mental
anti korupsi, yakni sebuah kesadaran dan keberanian yang kuat bahwa korupsi itu
harus diberantas.
Sedangkan, pendidikan yang
paling berpengaruh terhadap anak adalah dari orang tuanya. Frekuensi orang tua
terhadap anak melebihi lingkungan sekolah dan masyarakat. Maka tanpa peran
orang tua mustahil pendidikan anti-korupsi akan bisa terwujud dengan maksimal.
Model contoh-contoh
pendidikan anti-korupsi yang telah paparkan tadi hanya potret sebagian saja.
Variasi korupsi amat banyak macamnya di lingkungan kita. Orang tua harus jeli
agar tidak mempraktekkan tindak tersebut, lebih-lebih di depan anak. Semua
upaya itu tidak lain demi masa depan anak sendiri juga bangsa negara dan agama
kita. Akan sampai kapan lagi, Indonesia negara mayoritas muslim ini akan
menjadi jawara korupsi di jagat. Yah, semoga saja semua pihak, lebih-lebih
orang tua setelah membaca tulisan sederhana ini, mau betindak serius demi
penanggulangan korupsi di negara kita.amin. wallahu alam
Semoga bermanfaat!
* Tulisan ini
diikutsertakan dalam Kontes Blog I Muslim Anti Korupsi 2013 yang
diselenggarakan oleh PPM Aswaja
... dan berhasil menjadi juara harapan III (pada saat itu saya memposting di blog lama taufislow.blogdetik.com)
Ingin tahu kabar-kabar
tentang Islam dan NU? buka Website resmi Nahdlatul Ulama www.nu.or.id
