GENERASI MUDA MENJAWAB TANTANGAN MASA DEPAN

Membentuk Generasi Ulama' Yang Unggul
 
Gelar ulama’ seperti ustadz, kiai, ajengan dan lainnya di masyarakat kita memang cukup prestisius dan berpengaruh. Kelompok masyarakat muslim kita sangat menjunjung tinggi seorang Ulama’. Apa yang menjadi fatwa atau bahkan sekedar opini ulama’ terhadap suatu peristiwa akan menjadi pedoman bagi pengikut-pengikutnya. Kalau beliau ulama’ bilang “jangan!”, maka mereka menghindari, kalau ulama’ menyuruh “lakukan!” maka mereka pun mengerjakan. Jumlah masyarakat semacam ini tidak sedikit di negara kita.

Hal tersebut terjadi disebabkan ajaran agama yang mereka anut. Ajaran Islam menyuruh umatnya untuk menauladani  utusan Allah yaitu Muhammad SAW. Sedangkan Nabi pernah bersabda bahwa Ulama’ lah yang menjadi penerus perjuangan para nabi. Maka dari itu para kaum muslim akan selalu menaati Ulama’, sebagai representasi kekinian risalah agamanya.

Peran ulama’ yang begitu urgen dalam kehidupan sosial religi masyarakat kita belakangan memunculkan permasalahan. Semakin berkembangnya IPTEK ternyata kurang direspon cepat oleh beberapa ulama’. Ulama’ mengalami ketertinggalan yang amat jauh dalam perkara sains. Maka lalu muncullah kegagapan dalam menangkap fenomena tersebut di kalangan ulama'.

Sudah bukan hal yang diragukan lagi bahwa ulama' (yang dipakai masyarakat indonesia untuk seorang agamawan muslim) menempat posisi yang urgen dalam masyarakat kita. Seorang ulama' menjadi kontrol sosial dalam kehidupan masyarakat. Bahkan secara strata termasuk kategori yang cukup berpengaruh dalam wilayah yang mayoritas muslim.

Seorang ulama' banyak difungsikan dalam acara-acara kemasyarakatan. Selain ritual keagamaan, pengembangan pendidikan islam, ulama' juga banyak terlibat juga dalam penyelesaian problematika sosial. Seorang ulama' biasanya dipercaya untuk menjadi imam, pemimpin tahlil, jenazah juga pernikahan. Seorang kia juga bisanya diberi acara khusus dalam tiap-tiap acara peringatan hari besar islam untuk menyampaikan ceramah agama. Seorang ulama' biasanya mempunyai lembaga pendidikan yang disebut pesantren.
Gambar KH. Abdul Wahab Chasbullah, Ulama' asal Jombang

Penyempitan Makna Ulama’
Di masyarakat kita kata ulama’ yang berasal dari bahasa arab ini mengalami penyempitan. Gelar ulama’ oleh masyarakat muslim kita hanya disematkan pada beliau-beliau yang ahli di bidang tafsir, hadits, fiqih dan ulumusy syariah lainnya. Sekecil apapun pengaruhnya, sesedikit berapapun ilmunya, asal ceramah dan tahu di bidang tersebut maka masyarakat menyebutnya bagian dari ulama’. Berlaku sebaliknya, jarang atau bahkan tidak ada yang menyebut kata ulama’ kepada beliau-beliau muslim yang pakar di bidang kedokteran, sains dan teknologi. Sebesar apapun dedikasi beliau di masyarakat, setinggi apapun keilmuan yang dimiliki, tetap saja beliau tidak dianggap sebagai seorang ulama’.

Secara umum terdapat dua hal yang mempengaruhi budaya penyempitan penyebutan ulama’ tersebut. Pertama, dikotomi ilmu. Dalam masyarakat kita masih berkembang anggapan bahwa ilmu islam adalah yang masuk kategori ulumusysyariah, seperti tafsir, hadits, fiqih, tauhid dan seterusnya. Sedangkan mengenai ekonomi, kedokteran, antropologi dianggap sebagai ilmu dunia. Makanya ulama’ disematkan kepada yang golongan pertama, tidak pada golongan kedua.

Kedua, minimnya para pakar sains yang mengaitkan dengan keyakinan keagamaan. para pakar bidang umum acapkali hanya menjelaskan keilmuan yang dikuasainya hanya dalam sisi objektif keilmuan saja. Tidak ada pembenturan dengan kajian ajaran kegamaan yang dianutnya (dalam hal ini Islam). Maka tidak jarang ditemukan para pakar di bidang-bidang tersebut kemudian lemah/malas dalam ritual-ritual ibadah. Padahal banyak dari dasar keilmuan yang diketahui pada awalnya merjuk dari Firman Tuhan dan Hadits Rasul

Wacana Baru Sosok Ulama’
Konstruk penyebutan sosok ulama’ seperti itu semestinya membutuhkan peninjauan kembali oleh para ahli. Dari segi bahasa ulama’ berasal dari kata ‘alima, ya’lamu, ‘ilman, wahuwa alim. ‘Alim jamaknya lafadz ulama’. Artinya adalah orang-orang yang tahu tentang sesuatu bidang. berangkat dari pengertian itu seharusnya ulama’ tidak hanya dilekatkan pada seseorang yang tahu tentang fiqih, tauhid, tasawuf saja, melainkan juga disiplin ilmu yang lain. Sepatutnya sesorang yang pakar di bidang telekomunikasi, ekonomi, kedokteran dan disiplin ilmu yang lain yang biasanya dianggap sebagai ‘ilmu umum’, juga disebut sebagai ulama’.

Padahal bila kita menilik sejarah Islam, maka kenyataan mengatakan tidak demikian. Rosul yang menjadi tauladan umat islam menunjukkan bahwa beliau tidak hanya mengajarkan tentang hal-hal yang bersifat ritual, tapi komprehensif dlam berbagai disiplin ilmu. Perpolitikan, pengembangan ekonomi dan lain sebagainya. Hal tersebut kemudian diteruskan oleh para sahabat dan turun menurun hingga mengalami masa kejayaan dan totalitas pengamalan ajaran tersebut pada masa-masa berikutnya. Sebut saja Imam Ghozali, pakar tasawwuf yang saat muda menjadi ahli fiqih, ada Ibnu Rusydi, ulama’ filsafat, juga Ibnu Kholdun ulama’ sosiologi, Ibnu Sina ualama’ kedokteran,. Selain itu masih banyak ulama’-ulama’ yang mengmbangkan berbagai disiplin ilmu demi kelangsungan hidup manusia yang lebih baik. 

Belum lagi kalau kita mau membuka perintah al-Qur’an. betapa kita akan menemukan fakta disana yang memerintahkan kita untuk memahami banyak hal. Al-qur’an yang menjadi pedoman dalam kehidupan manusia berisi hal-hal yang universal. Coba telisik dialamnya kita akan menemukan ayat-ayat yang berisi tentang rahasia penciptaan, kesehatan dan hal-hal yang kita sebut duniawi. Nama ayat-ayatnya yang mempunyai arti  ‘sapi betina’, ‘lebah’, ‘wanita’, ‘makanan’, ‘binatang ternak’, tenunya mengandung rahasia untuk kita teliti lebih jauh.

Era demokrasi yang semakin terbuka, semakin menarik para ulama'-ulama' untuk mencoba berjihad di bidang politik. Pengaruh yang besar di mata masyarakat serta jaringan yang kuat sesama kia dimanfaatkan untuk meraup suara saat pemilihan. Tidak sedikit pula yang lantas kemudian terpilih.

Belakangan munculnya radikalisme dari oknum internal kaum islam membuat mata dunia risih terhadap islam. Islam seringkali diidentikkan dengan terorisme. Hal itulah yang lantas mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat luar terhadap kharisma para ulama’. Banyak muncul sikap antipati dari banyak pihak bila melihat orang berjenggot.  

Keterpurukan kepercayaan ini juga diperparah oleh masih menjamurnya para ulama’ yang berwawasan kebangsaan rendah. Hal tersebut memunculkan cara ambil sikap yang terkesan mudah marah terhadap fenomena di masyarakat.

Disisi lain sains terus berkembang pesat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berporos di barat ini menimbulkan fenomena baru. Ketertinggalan umat islam yang terjadi semakin menjadi-jadi. 

Generasi Ulama’ Unggul
Maka berkaca dari kenyataan tersebut perlu kiranya membentuk generasi ulama’ yang bisa menjawab tantangan terkini perkembangan zaman. Kalau dulu walisongo bisa menghubungkan dakwah dengan metode budaya berupa wayangnya, maka kiranya saat ini perlu menghubungkan nilai-nilai dakwah dengan wawasan kebangsaan dan racikan displin ilmu yang lain.

Tuntunan tersebut tidak bisa dihindari. Kehidupan masyarakat saat ini semakin kompleks, tidak hanya menyangkut ritual dan sandang papan pangan saja. Tanpa pengetahuan yang luas pada perkembangan keilmuan terkini, ulama’ tidak akan bisa menjawab problematika terkini masyarakat.

Agama yang dikatakan mengatur warganya secara detail pasti akan kesulitan bila para ahlinya tidak mampu mengaktualisasikan dengan perkembangan zaman. 

Adanya dikotomi yang terjadi antara ilmu agama dan ilmu umum memang disinyalir menjadi pembuka jarak islam dengan sains. Sehingga yang terjadi masyarakat menganggap bahwa memahami islam cukup dengan memahami sholat, puasa bersuci dan nikah serta kematian saja. Pandangan itu menyeret pada anggapan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah kajian yang penting, karena hanya persoalan dunia.

Padahal dalam catatan sejarah, para ulama’-ulama’ masa lalu tidak mendikotomikan hal tersebut. Lihat saja Imam Ghozali, beliau yang terkenal dengan ahli tasawwuf juga ahli dalam bidang lain. Pada waktu muda beliau ahli fisika, kemudian juga menjadi mufti (pakar fiqih). Ibnu Kholdun pakar sosiologis islam, Ibju Battutah, Ibnu Rusydy pakar filsfat dan sebagainya. Beliau memang punya spesifikasi keilmuan tertentu, namun tidak melupakan unsur-unsur keilahian dalam memahaminya. tendensi untuk mengembangkan keilmuan demi kesejahteraan seluruh umat manusia dan karena Allah swt.

Ternyata itu tidak hanya terjadi pusat peradaban Islam saja. Para Ulama’ Indonesia pun juga demikian. Walisongo yang populer menjadi pendakwah sukses di Nusantara juga dianggap tidak hanya pandai kajian islam ritual saja. Beliau-beliau juga pakar dalam ilmu pelayaran, ahli kesenian, juga pakar politik. Bahkan ilmu astronomi lah yang lantas membuat strategi dakwah walisongo berhasil. Letak bangunan yang dibangun para ulama’ penuh perhitungan, dari serangan musuh serta antisipasi bencana.

Membentuk Ulama’ Komprehensif
Menyikapi adanya dikotomi tersebut, perlu kiranya ada beberapa perombakan dalam sistem pendidikan para calon ulama’. Tidak bisa dipungkiri, pesantren lah yang selama ini banyak mencetak kader-kader baru ulama’. Sistem pendidikan tertua di nusantara ini menjadi kunci penentu bagaimana model ulama’ masa depan bangsa kita.
Menurut pakar kepesantrenan, model pesantren di bagi menjadi tiga:

  1. Pesantren salaf: pesantren yang fokus dalam pemahaman kitab-kitab kuning
  2. Pesantern semi modern, yakni pesantren yang menerapkan sistem sekolah tanpa meninggalkan ketradisionalnnya, meskipun porsinya tidak sebanyak pesantren salaf
  3. Pesantren modern, pesantren yang mengedapankan keilmuan kekinian

Ulama’-ulama’ yang mengabdi kepada masyarakat, seringkali lahir dari produk pesantren yang pertama dan sebagian kecil yang kedua. Fakta tersebut memang dipengaruhi bahwa model pendidikan di pesantren salaf cenderung mengusung tema-tema ketradisional yang mudah diterima masyarakat. Hanya saja perlu perbaiakan untuk waktu ke depan.

Diantara hal-hal yang bisa mewujudkan untuk mencetak ulama’ yang unggul, diantaranya:
  1. Adanya program-program ketrampilan hidup kepada santri
  2. Pengenalan dan pendalaman pada disiplin keahlian tertentu, seperti ilmu tentang perekonomian, ketatanegaraan serta sosial budaya, juga kesehatan
  3. Penyediaan sarana penunjang untuk mengembangkan keahlian, seperti ekstrakurikuler
  4. Selalu menyelipkan nilai-nilai keislaman pada setiap aktifitas keilmuan apapun
  5. Melatih jiwa riset kepada para calon ulama’
Semua hal yang dipaparkan di atas tentu membutuhkan sosok tauladan. Jadi harus dimulai dari kiai dan guru di pesantren tersebut. Apapun aktifitas keilmuan harus merujuk pada apa yang di firmankan Allah dan disabdakan Nabi SAW.

Hal tersebut diharapkan bisa mencetak Ghozali-ghozali baru, yakni jiwa pembaharu dengan tetap berpegang pada ajaran Nabi Muhammad SAW. Bukan bermalas-malsan dan berserah diri saja juga tidak hanyut pada desakan nafsu untuk cinta dunia saja. tapi maju lillahi ta’ala.

Dengan munculnya ulama’-ulama’ yang unggul tersebut diharapkan ke depan, problematika masyarakat perihal keislaman bisa teratasi denga bijak. disamping juga menambah nilai kualitas pakar umat islam, sehingga tidak di pandang sebelah mata oleh umat yang lain. Ulama’ kita bisa menjawab persoalan fiqih dengan pendekatan islam tanpa meninggalkan sisi antropologi masyarakat. Persoalan muasyaroh dengan kelompok yang berbeda bisa mendamaiakan antar umat. Maka tidak hanya Ualama’ yang akan unggul tetapi juga umat Islam juga menjadi umat yang unggul, juga Indonesia khususnya ikut unggul pula. Semoga saja.

Tulisan ini bukan untuk kemudian menjustis bahwa ulama’ masa lalu atau saat ini buruk. Penyegaran dengan memunculkan wacana baru ini hanya untuk urun rembug atas kemajuan zaman terhadap fungsi ulama’. Dengan melengkapi senajata dakwah maka diharapkan tercipta kehidupan masyarakat yang lebih religius, aaman sentosa namun mampu bersaing.

Sehinggga pada akhirnya diharapkan peran ulama’ yang sudah biasa disebut masyarakat lebih mengenal denga bekerjasama dengan ulama’ lain. sedangkan ulama’ baru yang unggul bisa lebih membenturkan wacana keilmuan yang diketahuinya. Maka bila hal tersebut tewrjadi ke depan kehidupan bangsa akan bisa berjalan lebih harmonis, siap berkompetisi serta terbentuklah masyarakat yang madani. Berawal dari ulama’-ulama’ yang unggul!! 

*Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog Generasi Muda Menjawab Tantangan Masa Depan yang diselenggarakan oleh Relawan Dino

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 comments:

comments
Anonymous
February 23, 2014 at 3:57 PM delete

bener slow, ulama' masa depan harus lebih komplet kemampuannya..

Reply
avatar