Showing posts with label KAMPUS. Show all posts
Showing posts with label KAMPUS. Show all posts

MUKADDIMAH


saya tidak bisa memungkiri naluri remaja saya, bapak ibu .. (niru pak Walid iki gayane)
suka mendokumentasikan sesuatu.

(makane umpama ente bapak ibu kok ngomong di hati “alah koyok jek enom ae, gini-ginian”. maka aku tegaskan: PANCEN AKU JEK ENOM BROOO...)

hanya saja karena kamera hape android evercoss saya masih vga, jadi ya mending pakek nulis gini aja lah .
angle dan komposisi warna objeknya bisa lebih hidup ..

(pengalaman membuktikan, bahwa aku bro .. aku lho yoo.. terlihat lebih tampan bila dipotret lewat baris kata. sebab yang bisa dipotret gak cuma hidungnya tok, mripate tok, apa lagi perutnya. tapi nembus-nembus, isinya kepala dan dalamnya kalbu. wuuuuushh.. (HARAP MAKLUM: alibine wong lemu))

yahhh paling tidak inilah dia tulisan saya tanpa plagias* (sstt.. ojo rame2 di sidang prodi engkok)

tapi saya juga tidak memaksa, apalagi ente-ente seng males moco..  ((cukup deloken foto-foto kono wes, golekono posemu piye. dievalusai trus revisi, apa yang kurang. gawe pose-pose foto maneh yaopo ben ketok luweh nampak ‘aura kecantikan’mu utowo ’naluri kejantanan’mu hihihi))


JALASTUM?!

JUDUL           : ORKESTRASI TAKDIR LASKAR TIKUNGAN JUNREJO
Lantukan membaca klik disini

CUT PASTE MEMORI 09330 ..

STNK-q hilang. Lha ilang nang ndi? lali ee. Wah wah, kemungkinan memori otakku full iki. Tak pindahe lah beberapa data seng gak pati penting.

  
CATATAN AWAL 09330*

2009 iku, saat-saat dimana
Awal masuk kuliah UIN pertengahan Ramadhan
Avenged, Vierra dan De Massiv nge-hits
Internet baru booming, bahkan pas ono pelatihan internet dasar, peminate mbludak.pancen ndeso
Klambine arek-arek sek ndeso-ndeso, g koyok maba saiki



Nek gak salah pas zaman iku ....

Saifudin masih menjadi seorang entertainer, qori’ nasid dan sholawat
Tina Emil mulai merajalela
Huda menjadi penguasa kelas (C)
Khusni Fuad belum terdepak
Hanya ‘amalia ilmiati’ tanpa ‘bundanya hilman’
Hadi berani mengatakan bahwa “Facebook Haroom!!”

 
 
Pak Tontowi menjalani masa-masa terakhir
Bu Zakiyah mengajar dengan pengucapan yang sangat khas: ‘jayyiid!’
Sahlan memonopoli di tiap-tiap forum diskusi
Genduk masih ta’aruf dengan kang Rofiq
Fathul tidak sepopuler hari ini


Sispur menjadi aktivis teraktif
Aan berambut pendek
Suriyati Nurhayati masih lugu
Fadlan teramat sering mengeluarkan ayat-ayat suci sebagai komentar diskusi
Ashif masih belum berlabel haji


Muhtarom menjadi simbol salaf
Hilda dan Nurus menjadi simbol fashion
Rifki menjadi simbol kemodernan
Hakam masih pemalu


Habib mahasiswa berambut paling gaul
Vitri membuat grup PBA Al-Mahbubah
Zen mulai menemukan dunia baru di luar kaligrafinya
Dzahim diisukan mendapat IP sempurna
Mahendra merintis karir tahfidznya


Mulai terbentuk bibit-bibit komunitas: Komunitas gontor, komunitas aktivis ekstra, komunitas jilbaber, komunitas diskusi murod tina, komunitas ngopi alfan, komunitas bojonegoro dan lainnya
Belum muncul komunitas musyrif/ah, juga komunitas futsal

Dan seterusnya.. terusno dewe!!!

* Tulisan ini berisi fakta yang dibuat-buat (dan mekso) untuk kepentingan iklan Futsal Bareng PBA 2009 besok malam hahahahahahaha :-) :-) :-)

MAHASISWA SANTRI, ANTARA IDEALISME DAN HEDONISME-

Menjadi seorang mahasiswa di kota besar merupakan suatu tantangan yang sangat berat bagi kaum santri. Selama bertahun-tahun hidup dalam lingkup yang terisolir dan terkarantina harus berhadapan dengan kerasnya dunia kota yang penuh persaingan dan hedonisme. 

Melihat realita yang terjadi di kampus yang banyak dipenuhi kaum santri saja, ketika perkuliahan sudah menginjak bangku semester 2 maka hamper tak ada perbedaan antara kaum santri dan yang bukan santri. Hedonisme yang menawarkan nikmat sesaat benar-benar telah menggoda kaumsantri sehingga harus menjual idealism kesantriannya dengan sebuah pola hidup baru, hidup suka-suka.

Sungguh amat disayangkaan, pesantren yang menjadi garda terdepan dalam pengembangan islamdi Indonesia ternyata hanya menghasilkan produk yang punya daya tahan yang ‘lemah’ dalam memegang sebuah prinsip Islam. Bisa dibayangkan bagaimana nasib Islam kedapan bila calon pemimpin-pemimpinnya di masa depan saat mudanya hanya bersenang-senang tanpa adanyaupaya megembangkan agamanya.

Bila kita merunut sejarah sebenarnya pesantren merupakan sebuah lembaga yang punya jasa besar dalam pembangunan bangsa. Mulai masa-masa kemerdekaan hingga era reformasi sekarang ini. Peran yang pada awalnya dekat dekat dengan kekuasaan yang saat itu masih berbentuk kerajaan semakin terpinggirkan ke pedesaan-pedesaan karena faktor kolonialisme.

Pesantren merupakan salah satu unsur penting dalam dinamika historis bangsa Indonesia.  Secara historis, pesantren telah “mendokumentasikan” berbagai peristiwa penting bangsa Indonesia, baik sejarah sosial, budaya, ekonomi maupun politik bangsa Indonesia.

Sebagai lembaga pendidikan, peran utama pesantren tentu saja menyelenggarakan pendidikan keislaman kepada para santri. Namun, dari masa ke masa, pesantren tidak hanya berperan dalam soal pendidikan, tetapi juga peran-peran sosial bagi masyarakat di sekitarnya.

Salah satu peran penting pesantren dalam sejarah perjalanan bangsa ini adalah keterlibatannya dalam perjuangan melawan penjajah. Ketika Jepang memobilisir tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah. Bambu Runcing yang terkenal sebagai senjata para pejuang kemerdekaan adalah inisiatif dari Kiai Subeki atau Mbah Subki yang kemudian diabadikan sebagai nama pesantren, yakni Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.

Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (Gunung Agung, 1984), mantan Menteri Agama K.H. Saifudin Zuhri antara lain menulis, di antara pasukan yang singgah ke Parakan terdapat anggota Tentara Keamanan Rakyat dari Banyumas pimpinan Kolonel Soedirman –yang belakangan menjadi panglima besar. Mereka membawa peralatan tempur lengkap. Ketika itu mereka dalam perjalanan ke medan perang Ambarawa.

Menurut Wahjoetomo dalam Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan (Gema Insani Press, 1997) seperti dikutip Asyuri (2004), masyarakat pesantren mengadakan aksi terhadap Belanda dengan tiga macam. Pertama, uzlah (mengasingkan diri). Mereka menyingkir ke desa-desa dan tempat terpencil yang jauh dari jangakauan kolonial. Maka tidak aneh bila pesantren mayoritas berada di desa-desa yang bebas dari polusi dan kontaminasi oleh budaya hedonisme, kepalsuan, dan keserakahan.

Kedua, bersikap nonkooperatif dan melakukan perlawanan secara diam-diam. Selain mengaji atau menelaah kitab kuning, para kyai menumbuhkan semangat jihad santri-santrinya untuk membela Islam dan menentang penjajah. Bahkan saat itu para kyai melarang santrinya untuk memakai pakaian yang berbau Barat atau penjajah seperti santri dilarang memakai celana panjang, dasi, sepatu dan sebagainya.

Ketiga, memberontak dan mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Dalam perspektif sejarah, pesantren sering mengadakan perlawanan secara silih berganti selama berabad-abad, untuk mengusir Belanda dari bumi Indonesia. Seperti kita kenal nama Pangeran Antasari, Sultan Hasanudin, Sultan Agung, Pattimura dan sebagainya. Beberapa pemberontakan yang dipelopori oleh kaum santri antara lain adalah pemberontakan kaum Padri di Sumatara Barat (1821-1828) yang  dipelopori kaum santri di bawah pimpinan tuanku Imam Bonjol;  pemberontakan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah (1828-1830); Pemberontakan Banten yang merupakan respon umat Islam di daerah itu untuk melepaskan diri dari penindasan dalam wujud pemberlakuan tanam paksa pada tahun 1836, 1842, 1849, 1880, dan 1888 yang dikenal dengan pemberontakan petani; dan pemberontakan di Aceh ( 1873-1903) yang dipimpin antara lain oleh Teuku Umar dan Teuku Cik Ditiro yang membuat Belanda kesulitan masuk ke Aceh.

Peristiwa 10 November
Pada awalnya kalangan pesantren melalui kiai dan para santrinya berjuang sendiri-sendiri dalam melawan penjajah. Perjuangan kalangan pesantren mulai terkoordinir melalui peristiwa 10 November 1945 yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan.

Meski bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, tidak semua negara di dunia mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Belanda dan sekutunya termasuk yang belum mengakui kemerdekaan Indonesia. Belum genap satu bulan sejak diproklamirkan, terdengar berita bahwa Indonesia sudah mulai diserang kembali oleh Belanda dan Sekutunya. Pada 10 Oktober 1945 Belanda dan Sekutunya telah menduduki Medan, Padang, Palembang, Semarang dan Bandung setelah melalui pertempuran sengit.

Menghadapi kenyataan ini, kalangan kiai pesantren segera merencanakan pertemuan diantara para pimpinan pesantren. Sebagaimana diceritakan K.H. Saifuddin Zuhri dalam Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia (Al-Ma’arif, Bandung 1981), KH Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syamsuri dan para kiai lainnya lainnya untuk mengumpulkan para kiai se-Jawa dan Madura atau utusan cabang NU untuk berkumpul di Surabaya, tepatnya di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jl. Bubutan VI/2. Namun pada 21 Oktober para kiai baru dapat berkumpul semua. Setelah semua kiai berkumpul, segera diadakan rapat darurat yang dipimpin oleh Kiai Wahab Chasbullah. Pada 23 Oktober Mbah Hasyim atas nama HB. (Pengurus Besar) organisasi NU mendeklarasikan sebuah seruan Jihad fi Sabilillah yang belakangan terkenal dengan istilah Resolusi Jihad.

Ada tiga poin penting dalam Resolusi Jihad itu. Pertama, setiap muslim - tua, muda, dan miskin sekalipun- wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Kedua, pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan layak disebut syuhada. Ketiga, warga Indonesia yang memihak penjajah dianggap sebagai pemecah belah persatuan nasional, maka harus dihukum mati. Bahkan, haram hukumnya mundur ketika kita berhadapan dengan penjajah dalam radius 94 km (jarak ini disesuaikan dengan dibolehkannya qashar salat). Di luar radius itu dianggap fardu kifayah (kewajiban kolektif, bukan fardu ain, kewajiban individu).

Fatwa jihad itu kemudian digelorakan Bung Tomo lewat radio disertai dengan teriakan Allahu Akbar sehingga berhasil membangkitkan semangat juang kalangan santri untuk melawan penjajah.

Para kiai dan santrinya kemudian banyak yang bergabung ke pasukan nonreguler Sabilillah dan Hizbullah yang terbentuk sebagai respon langsung atas Resolusi Jihad tersebut. Kelompok ini kemudian banyak berperan penting dalam peristiwa 10 Nopember. Komandan tertinggi Sabilillah sendiri adalah K.H. Masykur dan Komandan Tertinggi Hizbullah adalah Zainul Arifin. Diperkuat juga oleh Barisan Mujahidin yang dipimpinan langsung oleh Kiai Wahab Hasbullah.

Segera setelah itu, pesantren-pesantren di Jawa dan Madura menjadi markas pasukan non regular Hizbullah dan Sabilillah dan tinggal menunggu komando. Pengajian-pengajian telah berubah menjadi pelatihan menggunakan senjata. Pada detik-detik ini pesantren-pesantren juga didatangi oleh para pejuang dari berbagai kalangan untuk minta kesakten kepada para kiai. Tanpa itu para pejuang merasa tidak akan mampu menghadapi pasukan Belanda dan Sekutu dengan senjata-senjata berat mereka.

Seperti ditulis M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Serambi, Jakarta, 2005), seruan jihad itu berhasil menggugah dan membangkitkan semangat juang kaum santri. Ribuan kiai dan santri dari berbagai daerah  mengalir ke Surabaya. Perang yang menewaskan Jenderal Mallaby itu dikenang sebagai salah satu momentum dari perjuangan kaum santri melawan penjajah.

PESANTREN SAAT INI
Seiring dengan kiat pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pesantren sebagai salah satu lembaga ikut terkena dampak fenomena tersebut. Pesantren yang pada masa lalu hanya menyertakan materi-materi agama ‘saja’ sebagai kurikulum belajarnya kini mulai membuka diri denag menambah materi-materi yang menyangkut kebutuhan hidup masa kini. Sehingga yang terjadi pesantren mampu menelurka output yang siap dalam bakti kepada Negara.

Sebagai institusi sosial, pesantren telah memainkan peranan yang penting di Indonesia dan negara-negara lainnya yang penduduknya banyak memeluk agama Islam. Alumni pondok pesantren umumnya telah bertebaran di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa alumnus pesantren juga telah berkiprah di pentas nasional, yang terkenal antara lain:
Dr. Hidayat Nurwahid (mantan Ketua MPR RI)
KH. Hasyim Muzadi (Ketua PB Nahdlatul Ulama)
Prof. Nurkholish Madjid mantan (Rektor Universitas Paramadina)
Dr. Din Syamsuddin (Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)

KH. Abdurrahman Wahid, salah seorang kyai yang terkenal, adalah mantan Presiden Republik Indonesia. Ia adalah putra KH. Wahid Hasyim, seorang kyai yang juga tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pernah dua kali menjabat Menteri Agama di Indonesia.Sementara kakeknya adalah KH. Hasyim Asy'ari, seorang pahlawan nasional Indonesia dan pendiri Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Namun itu hanyalah potret dari sedikit alumni, masih banyak alumni yang ditunggu kiprahnya untuk bisa member konstribusi, tentu tidak hanya untuk agamanya saja , melainkan juga pada Negaranya yang telah digagas dan diperjuangkannya itu.

Tantangan Pesantren
Peran pesantren mendapat tantangan dari ideology islam garis keras yang belakangan marak. Pesantren yang menjunjung nilai-nilai Islam dan demokrasi tentu bertentangan denagn pemahaman kaum garis keras yang notabene anti khilafiyyah. Mereka berangapan denag system islam lama-lah berbagai krisis yang melanda dunia bisa diselesaika. Pemahaman yang frontal menjadi PR bagi kaum pesantren sehingga tidak sampai mubncul stigma bahwa Islam adalah agama yang menolak ‘negara’.

Kesetiaan kalangan pesantren terhadap visi kebangsaan Indonesia mulai mendapat tantangan serius ketika muncul kalangan Islam garis keras yang mencoba menawarkan Islam sebagai solusi bagi penyelesaian berbagai krisis di Indonesia. Sebagian pesantren sudah mulai tergoda oleh gerakan yang antara membawa gagasan formalisasi syariat Islam. Ini menjadi persoalan karena kalangan pesantren sangat kental dengan ciri moderat, menghargai keberagaman, memandang wahyu dan akal sebagai acuan kebenaran yang saling membutuhkan serta menghagai nilai-nilai tradisi dan budaya lokal. Sementara Islam garis keras cenderung menolak prinsip-prinsip ini.


Pasca reformasi, eksistensi keindonesiaan memang menghadapi banyak tantangan serius. Dengan modal sejarah yang gemilang dalam memperjuangkan kemerdekaan, pesantren mestinya bisa berbuat banyak untuk turut membantu penyelesaian berbagai masalah kebangsaan. Sayangnya, para pemimpin pesantren yang belakangan marak terlibat dalam politik praktis tidak banyak yang memiliki visi kebangsaan seperti para pendahulu mereka. Kita berharap, pesantren melalui para kiai, santri dan alumninya di masa-masa mendatang dapat memainkan lagi peran kebangsaan seperti yang dilakukan oleh para pendahulu mereka.

Pastinya tak ada pilihan lain bagi kaum santri selain memperdalam tentang penanaman nasionalisme dengan dasar pemahaman keislaman yang komprehensif demi terciptanya kehidupan yang islam, damai dan tentram, aman sentosa. wallahu a’lam.


Komisariat HIMMABA, 21:07 WIB / 19 Oktober 2010
dari berbagai sumber

HIMMABA, AWAL KENAL (1)

01.51                       Balai Desa Bumiaji           280210
Semua masih samar, karena baru masuk pintu. Belum tahu isi sepenuhnya di dalam dengan mata kepala sendiri. Satu sisi, sebagai tamu beberapa hari ini aku merasakan sendiri apa yang menjadi daya tarik di sini. Disisi yang lain, bagaimanapun juga persepsiku telah tersugesti oleh opini beberapa teman seangkatan, tentang adanya borok di kelompok ini. Muncul paradoks, tapi biarlah. Dipikir, karo melaku wae..

Namun untuk sebuah kemaslahatan jangka panjang, ada baiknya kutulis kesan-kesan pertama disini. Dengan mencoba memaparkan dengan sebenar-benarnya terjadi sepengetahuanku dan sejujur-jujurnya sesuai yang kurasakan. Ini dia:

- Kader minim. Otomatis tidak terlalu banyak kader unggul sebagaimana OMEK yang punya basis massa tinggi  (yang saya ikuti sebelumnya).

- Perlu ada kajian lagi, kenapa beberapa pesantren membonsai organisasi di Bahrul Ulum.Sehingga outputnya pun mengalami penurunan kualitas.

- Peringatan: tradisi sulit dirubah! Kecuali siap menjadi bulan-bulanan penjaga tradisi.

- Tak henti menawarkan pada forum, sehingga terjadi pemerataan keaktifan peserta forum.

- Menghindari rasa superioritas. Kalau pun memang superior, maka tidak menjadikan kelebihan tersebut untuk menginjak lainnya. Malah berfikir agar kanan kirinya juga tertular, tentunya dengan ‘diam dan memberi kesempatan'.

- Mempersoalkan perkara yang dipersoalkan saja.


- Yang penting mau mengerjakan terhadap apa yang diamanahkan. Komentar orang urusan belakang.

Memang belum tentu kita lebih baik ketika menjalani apa yang sedang mereka jalani saat ini. Kita hanya mengkritisi sesuatu, tanpa menjalani prosesnya terlebih dahulu. Tapi bila hal tersebut dirasakan tanpa diuraikan pasti lama-lama akan hilang dari ingatan. Tak sadar bila kita terus mengulangi permasalah tersebut dan pernah paham akan solusinya. Apalagi tidak ada jaminan aku bakal terus aktif disini. Kalu memang awet, buat bekal awal. Sebagai oleh-oleh dan kenangan, bila memang ditaksirkan lebih kerasan di tempat lain.

Untuk diri sendiri ada beberapa yang perlu dikoreksi:
a)      Mempersabar saat forum sedang memanas
b)     Menahan diri untuk tidak keluar forum saat mulai membosankan
c)      Melatih mental bicara di depan senior
d)     Mengatur tata cara berpakaian

Dan ada banyak kejadian dan pelajaran-pelajaran baru yang seharusnya tertorehkan saat ini. Tapi begitulah: lupa, suasana yang tidak kondusif untuk menulis, fisik drop dan lain-lain menjadi alasan sebagaimana biasa tulisan-tulisan itu tertunda.

*ditulis di tengah-tengah Konferensi HIMMABA, lengsernya Bang Muhib dan pasukan .

CATATAN AKHIR SEMESTER

Bismillahirohmanirrohim 
Sudah satu semester mengikuti perkuliahan di Pasca UIN Malang, Prodi Pendidikan Bahasa Arab. Sebuah anugerah, disamping mendapat pencerahan ilmu baru, di sana saya dipertemukan dengan orang-orang unik dan inspiratif. Para penghuni kelas pilihan saya, kelas E. Ada banyak nasehat kehidupan yang saya dapatkan pada saat bergaul dengan mereka.

Sebagai wujud syukur maka akan saya ikat ingatan tentang mereka. Berharap suatu saat  nanti saya tidak lupa pernah berhutang budi pada mereka. Akan coba saya urai secara sederhana profil 20 makhluk-makhluk langka yang saya temui di kelas terbuncit ini. Sebagai wujud unggah-ungguh, akan saya urutkan berdasar usia.

Siti Mardliyah
Semangat menuntut ilmu beliau pantas dijadikan tauladan. Di saat sudah mempunyai putri yang sudah menempuh pendidikan perguruan tinggi beliau masih berhasrat untuk kembali menggali ilmu di bangku formal. Jarak rumah beliau yang kurang lebih 75 km, tidak menyurutkan semangat untuk berangkat kuliah dengan cah-cah bayi seperti saya. Beliau merupakan praktisi pendidikan bahasa arab, menjadi guru sejak puluhan tahun lalu. Teman satu kelompok OSPEK dengan Pak Khudori ini juga sudah disertifikasi, mapel Fiqih. Konon beliau adalah salah satu adik kiai top di Malang. Sendiko dawuh, bu ..

Miftahuddin
Cowok Lombok yang satu ini adalah pria paling gaul di kelas ini. Usia boleh menembus angka keramat, namun penampilannya seperti Anak Baru Gede bos. Baju kotak-kotak modis, berjaket dengan rambut klimis hahaha.. Untungnya, usahanya tak sia-sia. Akhirnya ia mendapatkan hasilnya di tengah proses perkuliahan. Berhasil memikat hati teman sekelasnya, prestasi yang tidak bisa disepelekan. The Best 3 IAIN Lombok dan jebolan IKAHA Jombang ini sangat murah senyum dan berwawasan luas. Kalau sudah berargumen, praktis semua diam mendengarkan. Pantas bila menyebutnya ayam jantan dari timur untuk pemilik akun fb “Langit Ke Tujuh” ini.

Masrurotul Hikmah
Mahasiswi satu-satunya di kelas ini yang kuliah gratisan. Ibu muda kelahiran Mojokerto ini dipercayai negara untuk menerima beasiswa LPDP. Untuk sementara penghasilan beliau teringgi di kelas E. Bayangkan living cost LPDP per bulan + Gaji mengajar di MTs al Hidayah + Kursus Privat anak bos + Nafaqoh dari suami tercinta + Omzet Agen Mojokerto sabun kecantikan. Sarjana sastra arab UIN Maliki ini selalu nampak ceria dan banyak tertawa saat proses perkuliahan. Giliran waktu presentasi maka akan tampak keseriusannya, bahkan tampak menyeramkan saat menghadapi para penanya yang GJ. Mbak Ruroh sudah dikarunia satu putri, dan insyaAllah akan terus nambah. Pada saat semester kemarin beliau hamil muda.

Fitrian Risfendi
Pria paling pendiam di kelas E. Perjalanan jauh PP dari Blitar dengan trek yang menantang serta kesibukan dinas di SMP, membuatnya menanggung bermacam problem saat kuliah. Kuliah telat, sering tidak masuk sudah menjadi menu rutin perkuliahan semester ini. PBA UIN Maliki angkatan 2008 ini juga dikenal sangat kritis. Jadual yang dirubah tanpa kompromi oleh para dosen pernah akan diusutnya. Namun berhubung perkuliahan tinggal satu pertemuan akhirnya tak jadi. Mempunyai kecepatan mengerjakan soal ujian diatas rata-rata. Di lihat dari banyak aspek, sudah sampai pada masa-masa jomblo jatuh tempo. Hanya bisa mendoakan, semoga saja cepat cepat .amin

Yahya Kautsar
Menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai pengajar pakar di sebuah pesantren masyhur di Indonesia, membuat kharismanya begitu tampak saat kuliah. Bapak asal Pekalongan ini dikenal sangat berwibawa dan lantang saat sedang bicara Arab. Meski sering telat, tapi bapak bermata sipit membuat banyak dosen kagum akan ketinggian ilmunya. Dengan jaket MU merahnya dan Notebook Lamborgini membuatnya tampak semakin silau. Apalagi kalau makan, kecepatannya menyaingi kecepatan kereta. Bila mencari tumpangan tempat tidur yang luas, tempat Pak Yahya bisa jadi solusi. Sering berkata ‘ajoooor!’, pak Yahya punya banyak murid bule di Malang.

Siti Syaroh
Bendahara kelas yang baik hati dan dewasa. Lama di Malang saat kuliah UM tidak menghilangkan gaya khas daerahnya, Solo. Sopan, kalem dan logat yang  berakhiran e. Meski terlihat selalu memperhatikan saat diterangkan, beliau ternyata juga menjalankan usaha pretelan krupuk. Jasa beliau yang cukup besar untuk kelas E, yang didominasi kaum santai. Diantara jasa-jasa ibu yang akrab disebut mbak syasa ini adalah mendata jadual presentasi dan mengkoordinir pengurusan buku. Semoga Allah membalas jasa-jasa beliau dan menerima segala hajatnya. amin

Ana Nur Rahmawati
Dibesarkan di Kediri  membuat gaya bicara lulusan PBA UIN Malang kualem. Beliau adalah sosok yang cerdik. Seringkali mengadakan kerjasama dengan banyak pihak saat ada tugas dari dosen. Sikap perfeksionis kadang membuat kekhawatiran ‘tak sempurna’ saat mengerjakan tugas. Gadis yang indekost di salon pijat ini memang sangat pendiam, mungkin karena sosok keibuannya. Namun itu terjadi hanya pada saat forumdiskusi berlangsung, di luar itu subhanallah wekewekewek. Berbakat menjadi ibu rumah tangga dan baik, mbak ana mempunyai potensi yang baik dalam bidang kaligrafi. Tercatat, pernah menjadi kotestan saat MTQ Jawa Timur di Madiun dua tahun silam.

Rendi Sabana
Awal masuk dia paling rapi dengan rambut jambul klimisnya. Namun lama kelamaan style alamiahnya pun muncul. Tampilan cuek (seperti agak ngantuk dan banyak beban), rambut diurai (style tak tersentuh air), mata bergaya kriyep (gaya bangun tidur). Anak jalanan banget. Menghabiskan s1 di Aceh membuat logatnya sangat kental dengan perlawanan. Pada pertengahan perkuliahan mengambil cuti untuk mengikuti CPNS di daerahnya, Palembang. Untungnya tidak diterima. Sering numpang di kos Leden,akhirnya ia berjasa menggagas kontrakan gratisan dan ditariknya si Leden sebagai partner.

Abdul Aziz
Dialah presiden kelas E. Sering menjadi kambing hitam atas problematika kelas. Sebagai mantan ketua UKM Bahasa Inggris dan calon kepala sekolah, tajinya sungguh sangat nampak di kelas. Percaya diri yang tinggi, kesungguhan saat berbuat dan keaktifan saat diskusi diantara salah satu tandanya. Selain aktif memanfaatkan dunia seluluer, Aziz juga memanfaatkan sosial media untuk menginformasikan kabar terupdate kelas E. Hanya saja karena sering berperan sebagai antagonis saat diskusi, dia sering mendapat teguran dari beberapa teman. Gayanya khas dengan kopyah hitam dan rambut njepraknya. Perlu diketahui semenjak tidak banyak mendebat presentator, jejaka tua asal Lombok ini yang jago makan ini mendapatkan gelar ‘ad-dakhily’ (karena istiqomah memberi mudakholah)

Amrini Shofiyani
Ibu muda yang masuk kategori assabiqunal awwalun, lulusan PBA UIN Maliki angkatan pertama. Isteri dari dosen PKPBA ini hemat bicara saat di kelas. Beliau begitu konsisten dengan font sakka majalla nya saat membuat powerpoint. Meski berasal dari Jombang, gaya beliau seperti warga Jawa Tengah. Santun dan kalem. Kesibukannya di rumah dan di sekolah membuat beliau beberapa kali terlambat saat kuliah. Beberapa perkuliahan tidak bisa beliau ikuti bersama kelas ini karena jadual mudik mingguan. Dengar-dengar di akhir tahun 2013 ini beliau juga menjadi menekuni bisnis agen sabun kecantikan yang diinspirasi oleh bu Dzarriyah.

Rina Dian Rahmawati
Terus terang, sungguh kaget ketika pertama kali bertemu dara Mojoagung ini masuk di kelas Pasca. Terlihat sudah wegah-wegahan saat menjalani s1 dulu, ternyata dia tidak kapok juga dengan kuliah. Namun seiring berjalannya perkuliahan terjawab sudah hikmah dibalik s2nya Rina. Atas inspirasi Kang Mif, Rina akhirnya banyak mengalami kemajuan. Keaktifan bertanya dan analisis yang tajam sering ditampakkan saat melakukan diskusi. Kulit putih membuat semua warna baju cocok dipakainya. Gaya bicara penuh modus tapi kesetiakawanan tinggi menjadi ciri khasnya. Dengan banyaknya sahabat yang sudah melenggang ke atas kuade, sepertinya Rina ingin bergegas menyusulnya. Pemakai bahasa alay saat sms.

Esti Rohana Qudsiyah
Meski hanya bersama dua mata kuliah di kelas E, tapi tetap saja menjadi bagian. Ibu guru di sekolah favorit Al-Izzah ini sangat aktif di kelas. Datang awal, banyak tanya dan Powerpoint tidak main-main. Gelar ‘Isyroh Lana’ beliau dapatkan karena prestasi dan rekor di bidang tanya menanya. Satu angkat tangan, bisa melahirkan 3-4 pertanyaan. Karena intensitas pertemuan yang tidak sering, alumni tambakberas dan UM ini hanya terlihat akrab dengan mbak syasa dan bu dzariyah. Digosipkan menjalani hubungan tanpa status dengan teman sekelasnya, dialah satu-satunya yang naik mobil saat kuliah.

Nurul Anisya
Kalau Indonesia punya Syahrini, maka kelas E punya Anisya. Gadis Lamongan penuh sensasi. Bahasa Indonesia sangat fasih, fashion bajunya benar-benar variatif. Mempunyai naluri having fun tinggi, produk UIN Syahid ini sangat dermawan. Sering membawa cumi, menggratiskan WBL serta nasi goreng berporsi besar adalah diantara indikatornya. Disamping itu adalah pencetus ide karaoke di kelas E. Atas prestasinya tersebut dia kemudian mendapat gelar kehormatan sebagai “Ratu Karaoke”.  Sempat menggoda cowok pemalu di kelas E selama beberapa pekan, dia akhirnya melaunching pacarnya dari Bogor saat tahun baru.

Dzariyah Fitriani
Sang manten anyar, baru menikah beberapa hari sebelum kuliah masuk. Bersama sang suami mengarungi bahtera rumah tangga dan perkuliahan membuat beliau agak sibuk. Jadi setelah kuliah tidak toleh-toleh, langsung pulang untuk melepas rindu dengan keluarga. Menularkan naluri positif di kelas, usaha agen  sabun kecantikan dari Jepang. Keruntutan pola berfikir terpancar saat beliau mengutarakan pendapat atau pertanyaan saat perkuliahan. Selain kuliah, beliau juga sedang menjalani masa pengabdian pada salah satu lembaga pendidikan di pesantren Ar-Risalah Ponorogo. Pada pertengahan perkuliahan pernah izin untuk mengikuti lomba debat bahasa inggris se Jatim dan mendapatkan juara 2 (seingat saya).

Leden Parluhutan Nasution
Beliau satu marga dengan tokoh nasional, Harun Nasution. Nama yang tidak umum untuk wilayah Jawa, serta logat Medan yang sangat kental membuat banyak teman-teman kelasnya gemes. Cukup ngomong sedikit saja, pria rapi ini akan membuat senyum teman-temannya. Pemuda desa ini seringkalimengucapkan ‘pakai otak!’ dan ‘ini sudah s2, jangan kayak s1 lagi’ dengan ekspresi wajah unyu-unyu. Melihat kabar dan informasi via online gratisan menjadi hobinya. Cowok pecinta film spartacus ini selalu berpenampilan visual yang rapi ala eksekutif muda. Berangan-angan kuliah S3 di timur tengah, Leden bersungguh-sungguh dalam mendalami bahasa arab. Kamus dan google translate menjadi alat bantu utamanya untuk menambah mufrodat yang dihafal.

Zakiyatul Fakhiroh
Muassis grup Facebook kelas E PBA Pasca UIN Maliki 2013. Putra dari kepala sekolah di daerah Gresik ini sangat aktif di dunia maya. Status dengan saut-sautan komen menjadi pemandangan lazim di timelinenya, disamping foto-foto narsis tentunya. Meski tidak sok aktif saat diskusi, Bu Jack selalu berada di garda terdepan bila kelas E akan mengadakan kegiatan non formal. Walaupun banyak dituntut perkuliahan, tapi salah satu alumni Ma’had ‘aly ini sangat tenang. Ekspresi rona ‘let it flow’ tersiratkan pada wajah dibalik kacamata yang dipakainya. Menjadi saingan Nurul dan Pipit dalam masalah menghafal lagu.  

Doni Ahmad Ramadhani
Mungkin tidak banyak yang tahu, kalau pada saat s1 dia berprofesi sebagai penjaga mayat kuburan. Update status fb nya selalu menyiratkan analisis tajam dan kerasnya. Saat di forum dia nampak seperti suku Dayak yang tegas, tempat ia tinggal. Akan tetapi saat berinteraksi sosial keseharian, maka akan lebih tampak keYogya-annya, sopan dan pemalu. Lulusan STIQ ini penampilannya sangat sederhana, baju lengan panjang dengan celana kain dan sepatu van tofel hitam kilau. Sarjana terbaik ke-2 di kampusnya ini mengalami kemajuan dalam kalam saat menjelajah ilmu di Pare. Meski dulu hanya tinggal di asrama bukan pesantren tapi wawasan dan pengamalan keagamaannya cukup diakui.

Jihara Nailan Nascha
Gadis Jepara berwajah Korea. Meski senyumnya mahal, tapi sesungguhnya dia sangat rendah hati dan tidak sombong. Terbukti Qori’ah dan vokalis gambus kenamaan ini tidak pernah menampak-nampakkan dan pamer bakat suaranya, baik di kelas maupun di tempat karaoke. Bahkan saat audisi Idol kemarin dia sengaja tidak ikut, untuk memberi kesempatan Maisarah mengorbitkan diri. Keelokannya banyak membuat para kaum adam terpesona. Meski berwajah oriental, (kalau tidak salah) dia lebih suka musik Timur Tengah dari pada lagu-lagu Asia Timur.

Aufia Aisya
Seorang Bu Nyai asal Trenggalek yang masih dalam masa pengabdian di Ponorogo. Punya hobi datang awal saat kuliah, karena berangkatnya naik blue car. Di tengah perkuliahan mendapat cobaan, digoda habis-habisan oleh banyak oknum. Apapun pertanyaannya, bagaimanpun topik diskusi,  jawabannya selalu “aufia, aufia!” dan saling bersahutan. Kemudian akhirnya cobaan itu berhenti setelah dia mengeluarkan jurus apenapen ngambek saat digojloki. Sarjana PBA INSURI ini juga dikenal mempunyai stok snack yang melimpah. Mulai yang manis, asin sampai pahit dia kulak habis. Banyak terpengaruh bahasa Korea, mulai arasso, otokke dan lain-lain. Alih dan campur kode yang ndlodok.

Siti Muhafidzoh
Pecinta travelling yang narsis asal Tulungagung. Jiwa inisiatif mantan siswa MAN Tulungagung ini sangat tinggi. Berkat bakatnya itu menggagas banyak perjalanan kelas E, bersama duetnya Bu Jack. Balekambang, WBL, Ijen, Alun-alun Batu dan banyak lokasi yang diinisiasi olehnya. Dara yang satu ini suka memakai singkatan-singkatan atau istilah update yang GJ, seperti TTWW, SPBU, BEOL dst. Meski lebih banyak diam saat di forumresmi, tapi kalau untuk urusan narsis jagonya. Foto-foto selfie gadis pemilik akun ‘Pipitz Ae’ bertebaran di sosmednya, dengan berbagai pose. Untuk masalah keaktifan masuk kuliah, dia termasuk dalam kategori rajin sekelas Doni.

Faroid
Mahasiswa paling tenang di kelas E. Tugas kuliah apapun, dikerjakannya dengan tidak gopoh, sambil bilang “sanntai ae!”. Berbagai macam sosmed difungsikan di tabletnya. Fb, twitter, instagram,twoo, bbm dan seterusnya. Pemuda yang bercita-cita menjadi pegawai KEMENAG sungguh contoh yang baik dalam masalah pengorbanan. Berkali-kali kelas E ambil potret dengan para dosen, Faroid merelakan wajah gantengnya tidak nampang. Dia selalu mengalah untuk menjadi fotografer saja. Memiliki aksen Madura yang sangat mencolok, serta sepeda matic gagah menjadi identitas khas miliknya. Aura bos sangat menyala-nyala pada tubuh pemilik nama terpendek di kelas ini.
 

Itulah hasil dokumentasi dengan pendekatan hati oleh saya, si tampan asal pasuruan. Dikarenakan menggunakan metode ‘soktahu’, ‘sok eleng’ dan ‘menuduh’, maka bukan tidak mungkin akan banyak fakta fiksi yang disajikan pada tiap deskripsi profil. Hak pembaca untuk mengayak dengan saringan masing-masing.

Sekitar seminggu lagi dimulailah perkuliahan semester dua. Pembagian kelas yang berdasar pemrograman (bukan paketan), membuat peluang untuk sekelas dengan anggota utuh seperti di atas amat kecil sekali.

Semoga silaturrahim kita tetap terjaga!